Anak Negeri Menjadi Juri Lomba Filateli Internasional
Ir. Ryantori penemu Konstruksi Sarang Laba-Laba tengah berpose di samping koleksinya lukisan Ratu Inggris Elizabeth yang terbuat dari ribuan perangko. Dia terpilih kembali sebagai juri lomba filateli internasional yang diselenggarakan di JCC Jakarta. (Foto: Ganet/ ANTARA)

Jakarta (ANTARA News) - Penemu konstruksi sarang laba-laba Ir. Ryantori kembali terpilih menjadi juri lomba kolektor perangko (filateli) internasional yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC) mulai Senin (18/6) hingga Minggu (24/6).

"Saya bersyukur dipercaya untuk ikut bergabung ke dalam tim juri pada lomba filateli dunia di JCC yang diikuti 62 negara," kata Ryantori yang ditemui di sela-sela lomba dan pameran filateli internasional, Rabu.

Berdasarkan catatan Ryantori baru dua orang putra Indonesia yang memiliki sertifikat internasional, termasuk dirinya. Ryantori sebelumnya juga terlibat dalam penjurian lomba filateli internasional di Johannesburg Afrika Selatan pada tanggal 4 November 2011.

Menurut dia, profesinya sebagai kontraktor dan konsultan konstruksi sarang laba-laba sangat membantu dalam memburu perangko bernilai tinggi, termasuk untuk mengikuti lelang di sejumlah negara.

Ryantori mengatakan bahwa Indonesia dalam ajang ini menyertakan 14 koleksi perangko yang akan diikutkan dalam sembilan kelas yang akan diperlombakan.

"Lomba diikuti 45 koleksi dan 7 literatur dari berbagai negara, termasuk Indonesia," kata Ryantori yang mulai tertarik menekuni dunia filateli sejak tahun 1988, serta mulai masuk dalam lomba filateli internasional pada tahun 1990.

Ryantori mengatakan bahwa kolektor perangko yang sudah memiliki kualitas internasional di Indonesia tidak banyak baru sekitar 200-an orang, sedangkan lainnya masih dalam tahap pemula.

"Jadi, dalam dunia filateli itu kita juga mengenal grade (tingkatan) dari pemula sampai master ditentukan dari koleksi dan lomba filateli yang pernah diikutinya," ujar Ryantori.

Menurut dia, filateli itu sama halnya dengan dunia musik yang mengenal alat musik, pemahaman terhadap musik, serta vokal yang baik. Oleh karena itu, dalam lomba yang dilihat tim juri juga dilihat pemahaman terhadap filateli, benda filateli yang dimiliki, serta studi dalam arti penguasaan terhadap koleksi yang dimilikinya.

Peserta dalam hal ini tidak hanya mengoleksi perangko, tetapi juga harus mampu menceritakan perjalanan perangko tersebut dalam mengantarkan surat.

Salah satu contoh yang membuat perangko bernilai, yakni pada sampul suratnya terdapat sejumlah stempel yang menunjukkan riwayat perjalanan surat tersebut, mulai dari stempel kereta api, kapal laut, hingga kuda. Penilaian akan dilihat kemampuan kolektor dalam menjelaskan riwayat sampul tersebut, kata Ryantori.

Ryantori mengatakan seluruh koleksi dan literatur yang dipamerkan nantinya akan mendapat medali seluruhnya. Bagi yang mendapatkan medali emas terbanyak akan diikutsertakan dalam grand prix, yang pemenangnya nantinya diperkenankan untuk mengikuti lelang.

"Perangko pemenang yang ikut lelang nilainya bisa mencapai enam digit dolar AS," kata Ryantori sehingga inilah yang membuat kegiatan filateli ini diminati.

Ryantori memperkirakan biaya penyelenggaraan pameran dan ekshibisi filateli ini juga relatif mahal karena untuk mengundang 60 juri dari berbagai belahan dunia tentunya harus menyediakan akomodasi di hotel berbintang, termasuk honor mereka, belum termasuk biaya pengamanan koleksi yang dipamerkan.

"Kalau di luar negeri biayanya bisa puluhan miliar, saya tidak tahu di Indonesia," ujar dia.

Dalam pameran filateli, Ryantori juga memajang dua koleksinya, yakni lukisan perangko bergambar mantan Presiden Soeharto dan Ratu Inggris Elizabeth yang ditempatkan di pintu masuk pameran.

"Pekerjaan untuk membuat Presiden Soeharto sekitar satu tahun, sedangkan untuk Ratu Elizabeth hanya membutuhkan waktu enam bulan. Pelukisnya belajar dari pengalaman pertama sehingga lebih lancar untuk pekerjaan selanjutnya," ujar Ryantori untuk mewujudkan karyanya tersebut harus menyediakan puluhan ribu perangko.

Terkait dengan semakin berkembangnya teknologi sehingga semakin jarang orang menggunakan perangko untuk berkirim surat, Ryantori optimistis justru karena semakin jarang menggunakan perangko, akan semakin langka dan semakin diburu orang.

"Perusahaan pos di seluruh dunia saat ini masih memproduksi perangko dengan edisi yang berbeda karena semakin jarang justru itu yang kemudian banyak diburu," ujar dia.

  
    Penemu

Ryantori sendiri dikenal sebagai penemu konstruksi sarang laba-laba, seperti halnya Indonesia pernah mencetak penemu konstruksi sosro bahu dan cakar ayam.

Konstruksi Sarang Laba-Laba merupakan konstruksi rigid yang telah diuji coba tahan terhadap gempa sehingga sangat cocok dipergunakan bagi bangunan di daerah gempa.

Konstruksi Sarang Laba-Laba telah dipergunakan untuk fasilitas Bandara Udara di Tarakan dan Batam, jalan yang tanahnya jelek seperti di Pontianak dan Bojonegoro Jawa Timur, serta sejumlah bangunan di Padang dan Aceh yang selama merupakan  kawasan gempa.

Terkait dengan terpilihnya sebagai juri internasional filateli, Ryantori mengatakan bahwa perjalanannya tidak mudah harus memenuhi sejumlah persyaratan yang cukup berat.

Syarat sebagai calon juri harus memiliki koleksi yang meraih medali vermeil ke atas dengan nilai di atas  80.

Biaya untuk menjadi juri internasional harus ditanggung sendiri. Calon juri akan diberi tugas menilai empat koleksi yang sangat bervariasi dari jelek sampai bagus sekali dan nilai yang dihasilkan tidak boleh beda plus atau minus satu poin dengan hasil penilaian akhir.

Jika gagal dia diberi kesempatan sekali lagi. Kalau masih gagal lagi dia baru boleh melamar lagi untuk dua tahun berikut, jelas Ryantori.

Ryantori mengaku selama ini berupaya membagi waktu profesinya sebagai pimpinan perusahaan kontraktor dan konsultan dengan hobinya mengoleksi filateli langka.

Ryantori mengatakan bahwa dirinya mulai belajar filateli di dunia internasional pada tahun 1990 ketika bertugas mewakili Indonesia dalam rapat organisasi Asia Pasifik di Tokyo Jepang.