Kalbe Selenggarakan Penjurian 18 Karya Finalis KJSA
Seto Bayu dari SDN Kebon Pedes 5 Bogor tengah memperagakan destilator air laut tenaga surya dengan penelitian di pantai Bayah Banten Selatan

Jakarta (Antara News) - Perseroan Terbatas Kalbe Farma Tbk menyelenggarakan penjurian sebanyak 18 finalis karya ilmiah Kalbe Junior Scientist Award (KJSA) 2013.

"Karya ilmiah yang masuk mengalami kenaikan dari 446 tahun 2012 menjadi 655 tahun 2013 sehingga dewan juri sebanyak lima orang harus berkerja keras untuk memilih 18 finalis," kata Ketua Panitia KJSA 2013 Arief Nugroho di Jakarta, Rabu.

Arief mengatakan bahwa penjurian kali ini untuk menyeleksi sembilan pemenang KJSA untuk kemudian mereka akan diikutkan dalam Kalbe Junior Scientist Fair.

Ia mengatakan, dalam Kalbe Junior Scientist Fair, akan ditetapkan pemenang favorit berdasarkan banyaknya dukungan selama penyelenggaraan pameran.

Arief mengatakan bahwa kenaikan sebesar 50 persen jumlah peserta KJSA karena persiapannya lebih matang untuk melakukan sosialisasi "door to door" ke sejumlah sekolah di seluruh Indonesia, serta jangkauannya kali ini lebih luas.

"Sebagai contoh peserta kami ada yang berasal dari Halmahera Selatan Maluku Utara yang membutuhkan waktu dua hari dari tempat tinggalnya," katanya.

Arief mengatakan bahwa penjurian final menghadirkan lima juri, yakni Yohanes Surya dari Surya Institute, Karnadi Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta, L.T. Handoko dari LIPI, dan Puspita Lisdiyanti dari LIPI, dan Mayke S. Tedjasaputra (psikolog Universitas Negeri Indonesia).

Ia menjelaskan bahwa KJSA merupakan bagian kegiatan dalam rangka HUT ke-47 ditujukan agar anak-anak Indonesia dapat mengembangkan diri dibidang sains.

Menurut dia, anak-anak merupakan investasi jangka panjang diharapkan dapat memberikan sesuatu dalam kehidupan manusia nantinya.

Sementara itu, Handoko mengatakan, berdasarkan seleksi terhadap karya ilmiah peserta ternyata juga terjadi kenaikan kualitas terhadap karya-karya KJSA, kemungkinan karena panitia memberikan waktu yang cukup bagi peserta untuk mempersiapkan diri.

Ia mengatakan, bagi dewan juri, yang dilihat ide orisinal dari karya ilmiah yang ditampilkan bobot penilaiannya mencapai 60 persen.

"Kita tidak melihat apakah karya itu nantinya dapat diaplikasikan atau tidak, tetapi yang dinilai bagaimana ide tersebut dapat muncul dari para peserta," ujar dia.

Handoko mengatakan, dari tanya jawab dan presentasi peserta, dapat mengetahui apakah karya tersebut merupakan ide mereka sendiri atau mendapat bantuan dari orang tua dan guru.

Biasanya, kata dia, siswa dari daerah memiliki ide kreativitas lebih besar daripada siswa di perkotaan karena mereka memiliki pengalaman lebih banyak dalam kesehariannya.

Sebanyak 18 peserta KJSA, di antaranya alat penjernih asap portabel karya Alexander Fleming Setiadi dari Chromoscience Club Bandung, briket serbuk gergaji karya Alya Zafira dan Aisha Loha dari SDN SN Pasar Lama 1 Banjarmasin, ramuan wangi dan alami bersama kutu di punggung kelinci karya Cintania Surga alifa dari SD Muhammadiyah 1 Jember.

Kemudian, Jembatan Kapuas Siaga karya Devita Mayanda Heerlie dari SD Bina Mulia Pontianak, Automatic Feeding Fish karya Diva Tsabita dan Nisrina Kamilah dari SD Muhammadiyah 1 Gresik, resep pengawet ikan nenek moyang karya Fransina dan Sandri dari SD Kristen YPPK Sintanala Halmahera Selatan.

Rak buku pintar dan kelas pintar serta ramah lingkungan karya adik kakak Grace dan Theophilus dari SD Kristen Ipeka Putri Jakarta, kompor matahari karya Bhisma St. John's Catholik School Tangerang Selatan, pengintai langit-langit rumah karya Irene dan Daniella dari SD Marsudirini 1 Yogyakarta.

Berikutnya, kertas ajaib dari ekstrak bunga telang karya Katya dari Yayasan Pendidikan Islam MI Al-Hidayah Jakarta, alat cuci piring karya Lolan dan Reynaldy dari SDN Guruminda Bandung, pembersih panci dari rosela karya M. Reza dan Mafazan dari SDIT Al-Husna Sukabumi, kulit udang sebagai pelindung kertas karya Naradhipa dari SD Al-Zahra Pamulang.

Pompa air tanpa bahan bakar karya Niko dan Tera dari SDN 17 Nanga Bungan Kabupaten Kapuas Hulu, tepung buah bakau karya Patricia dari SD Kuntum Cemerlang Bandung, lampu penanda pelari karya Radinka dari SD Kuntum Mekar Bandung, dan destilator air laut tenaga surya karya Seto Bayu dari SDN Kebon Pedes 5 Bogor.