Sabtu, 19 Agustus 2017

Analis Minta Operator Ponsel Perhatikan Kebijakan Tarif

id Tarif Telepon
Analis Minta Operator Ponsel Perhatikan Kebijakan Tarif
Perusahaan operator telekomunikasi diminta jangan terjebak dalam perang tarif yang terbukti dapat merugikan (Arsip)
Dapat mempengaruhi profitablitas serta jangka panjang merugikan konsumen
Jakarta (Antara News) - Analis Pasar Modal dari PT Bahana Securities, Leonardo Henry Gavaza CFA berharap perusahaan operator telekomunikasi dapat memperhatikan kebijakan tarif agar tidak terjebak perang harga yang nantinya justru mempengaruhi profitabilitas perusahaan.

"Kebijakan tarif harus diperhatikan mengingat saat ini industri telekomunikasi di Indonesia sudah mulai pulih pasca perang harga yang dilakukan perusahaan operator tahun 2008," kata Leonardo di Jakarta, Selasa.

Menurut Leonardo perusahaan operator telekomunikasi seharusnya dapat menjaga profitabilitas dengan demikian revenue dan net profit juga tidak akan terganggu, apalagi  kalau melihat tarif data yang dijual oleh operator saat ini sudah  sangat murah.

Perang tarif yang terjadi   tahun 2008 membuat industri telekomunikasi nasional menggalami tekanan yang berdampak turunnya profitabilitas perusahaan telekomunikasi serta  telah memakan korban.

Leonardo mengatakan, memang dalam jangka pendek perang tarif seolah-olah akan menguntungkan konsumen. Konsumen akan mendapatkan tarif yang murah. Selain itu rapor management kepada pemegang saham juga kelihatan bagus,  disebabkan meningkatnya pangsa pasar.

"Akan tetapi dalam jangka panjang akan merusak industri telekomunikasi. Tak menutup kemungkinan pesaing  juga akan melakukan hal yang sama. Jika ini sampai terjadi maka margin keuntungan akan tergerus dan industri telekomunikasi yang tahun lalu bisa tumbuh 10% kemungkinan tahun ini tak akan tercapai. Bahkan bisa mengalami minus," kata Leonardo.

Kahlil Rowter, Chief Economist PT Danareksa Sekuritas mengatakan apabila para operator telekomunikasi ini terus menerapkan tarif yang murah dan tidak masuk akal, dipastikan kemampuan penyelenggara jasa telpon tersebut akan tergangu. 
 
"Mereka tak akan lagi mampu untuk membangun, mengembangkan jaringan dan menjaga kualitas layanan," kata dia.

Data tahun lalu menunjukkan kualitas jaringan yang dimiliki operator yang kerap melakukan perang tarif akan mengalami penurunan, ujung-ujungnya justru merugikan konsumen dan industri telekomunikasi nasional.

Editor: Ganet

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga